Polemik Liga 4: Undian ‘Curang’ hingga Marak Tendangan Kungfu

Posted on

Liga 4 kembali jadi sorotan. Dulu sempat viral soal dugaan undian curang, kini marak tendangan kungfu di dalam pertandingannya.

Dalam sepekan terakhir, ada dua insiden yang jadi sorotan di Liga 4. Dua-duanya soal kekerasan pemain di dalam pertandingan.

Pertama awal pekan ini, dalam laga PS Putra Jaya melawan Perseta Tulungagung di Babak 32 Besar Liga 4 Zona Jawa Timur, Senin (5/1).

Pemain Putra Jaya, Muhammad Hilmi Gimnastiar, bikin tendangan kungfu ke lawan. Ia menendang dada lawannya, Firman Nugraha.

Tampak Hilmi mengarahkan kakinya malah ke dada Firman, bukan ke bola yang bergulir di bawah. Firman kesakitan, dan Hilmi dikartu merah.

Aksi itu berbuntut panjang. Hilmi dihukum berat Komite Disiplin PSSI berupa denda Rp 2,5 juta dan larangan beraktivitas seumur hidup.

Belum sampai di situ, Hilmi juga mendapat sanksi dari internalnya. PS Putra Jaya langsung memecatnya sebagai pemain!

Kasus yang masih hangat itu kemudian malah terulang sehari berselang. Kali ini terjadi di Liga 4 Daerah Istimewa Yogyakarta.

Itu terjadi di laga KAFI Jogja vs UAD FC di Lapangan Sitimulyo, Piyungan, Bantul, Selasa (6/1). Pemain KAFI Jogja, Dwi Pilihanto, juga ikutan tren tendangan kungfu di lapangan.

Dwi menyorongkan kakinya tinggi, mengarahkannya ke kepala pemain UAD FC, Amirul Muttaqin. Bedanya, Dwi cuma dikartu kuning di laga tersebut.

Sementara Amirul akhirnya ditarik keluar pertandingan. Seperti sebelumnya, aksi Dwi kemudian viral dan jadi sorotan.

Panitia Disiplin (DIY) lantas meninjaunya, dan menjatuhi sanksi berat. Dwi juga dihukum larangan main seumur hidup.

KAFI Jogja juga mengambil sikap keras ke Dwi. Klub memecatnya sebagai pemain, dan mengutuk keras aksinya.

Kasus ini bikin Liga 4 jadi sorotan lagi. Sebelumnya, sempat viral soal undian curang yang terjadi musim lalu.

Dalam undian putaran nasional Grup N, dengan tuan rumah Persewangi Banyuwangi, terlihat undian dilakukan dengan cara yang kontroversial. Operator mengambil bola dengan tidak transparan, tak terlihat, sehingga muncul tudingan kecurangan.

Drawing itu bikin PSSI sampai angkat suara. Ketua Umum Erick Thohir mengecamnya, dan meminta undian ulang dilakukan.

Liga 4 musim ini sedianya sudah berubah formatnya. Kompetisi dimulai dari jenjang kota, bukan lagi dari provinsi seperti musim pertama.

Namun, situasi itu bikin masalah teknis makin sering terdengar. Dari soal menggelar laga di lapangan yang tak layak, hingga kini muncul pemain-pemain jago ‘UFC’ di lapangan.

Saat awal digelar, Liga 4 diharapkan bisa membantu perkembangan sepakbola tanah air. Asumsi dasarnya, marak kompetisi, maka akan marak bibit-bibit bertalenta yang bisa menunjuang prestasi, muaranya tentu di Timnas Indonesia.

“Liga harus bisa bertransformasi. Ada yang salah jika liga kita sekarang nomor 28 di Asia dan nomor 6 di Asia Tenggara. Jika Liga 1 dan 2 harus bertransformasi, maka Liga 3 dan 4 harus terus didorong dengan perbaikan manajemen liga,” kata Erick Thohir, dilansir situs resmi PSSI, Juli 2024 lalu.

“Oleh sebab itu saya minta seluruh stakeholder mendukung niat baik ini. Harus ada terobosan. Jika ada yang tidak mau, ya jangan salahkan jika tertinggal,” tegasnya.

Apa dengan sistem kompetisi yang makin berjenjang seperti Liga 4 ini, juga diikuti dengan kualitas penyelenggaraan dari tingkat pusat hingga kota, PSSI?

polemik