Tahun baru, biasanya dibarengi dengan sebuah resolusi. Untuk sepakbola Indonesia, apa yang semestinya menjadi niat para pemangku jabatan di 2026?
Tahun 2025 menjadi tahun yang penuh turbulensi untuk sepakbola Indonesia. Awal tahun lalu, PSSI sudah membuat kejutan dengan pecatan Shin Tae-yong dari kursi pelatih.
Pada prosesnya, Patrick Kluivert yang ditunjuk menjadi ‘pawang’ baru untuk Skuad Garuda. Setelah itu, kegagalan demi kegagalan yang dituai oleh federasi sepakbola di tanah air.
Ambisi lolos ke Piala Asia U-23 2026 gagal, mimpi ke Piala Dunia 2026 sirna, target untuk meraih perak atau emas di SEA Games 2025 juga tak bisa dipenuhi. Timnas Putri Indonesia juga gagal mewujudkan misi mencatatkan sejarah meraih medali di pesta olahraga negara-negara ASEAN.
Kini, tahun sudah berganti. Sejumlah ajang sudah menanti Timnas di 2026. Ada FIFA Series sampai FIFA ASEAN Cup yang akan digelar pada tengah tahun. Ada banyak pendapat di media sosial yang meminta ‘reset sepakbola Indonesia’.
Peran PSSI diminta agar lebih besar lagi untuk perbaikan sepakbola di tahun ini. Pembinaan usia dini harus menjadi fokus yang harus diutamakan sejalan dengan program naturalisasi demi menghasilkan Timnas yang kuat dan bisa bersaing di ajang dunia.
“Terkait dengan sepakbola, memang kita juga merasa prihatin di tahun 2025, impian untuk meraih berbagai level kejuaraan tidak bisa terwujud. Piala Dunia, Piala Asia U-23, kemudian termasuk SEA Games,” kata Ketua Asosiasi Profesor Keolahragaan Indonesia (Apkori), Djoko Pekik Irianto, kepada detikSport, Jumat (2/1/2026).
“Tentu ini menjadi bagian evaluasi kita secara menyeluruh. Di antaranya adalah, yang pertama, program beberapa tahun ini kita nampaknya terfokus ke Piala Dunia saja dengan menggunakan yang short term atau clash program. Kenapa saya katakan clash program, karena kita tahu begitu masifnya, begitu banyaknya kita naturalisasi pemain kita. Bagi kita naturalisasi itu tak menjadi masalah kalau diikuti program untuk bisa membina para pemain lokal. Artinya apa, dengan naturalisasi itu membawa impact, membawa transfer of skill kepada atlet-atlet kita. Sehingga yang sering saya sampaikan bahwa, manakala kita mendapatkan satu atlet naturalisasi, juga melahirkan satu atlet lokal yang bertaraf internasional.”
“Kemudian, ke depan kita harus kembali ke pembinaan yang basic, basis pembinaan olahraga kita termasuk sepakbola ada pada klub. Kita ketahui bahwa di sepakbola itu ada banyak sekolah sepakbola, itu menjadi indikasi yang bagus. Namun demikian, manajemen SSB itu tak terkoordinasi dengan baik, terkesan berjalan sendiri-sendiri. Tidak ada program yang terpadu, bagaimana dengan kurikulum di SSB itu, bagaimana dengan standar sertifikasi pelatih yang menangani SSB, itu menjadi bagian dari hal mendasar dilakukan pembinaan secara utuh, siapa yang berkewajiban melakukan koordinasi terkait dengan berbagai aspek pembinaan? Tentu PSSI dalam hal ini. Oleh sebab itu maka, oke kita mengejar untuk bisa lolos Piala Dunia, mengejar Lolos Olimpiade. Jangan tinggalkan, jangan abaikan pembinaan pada basis. Pembinaan yakni ada di klub-klub,” kata dia menambahkan.
Pengamat sepakbola nasional, Mohamad Kusnaeni, menyebut bahwa PSSI harus menggelar evaluasi atas deretan kegagalan pada 2025. Hal itu demi mengetahui langkah ke depan agar bisa memperbaiki diri. Apalagi, PSSI dan sepakbola mendapatkan anggaran besar dari Negara, yang mencapai Rp 200 miliar.
“Dalam setiap akhir tahun harus ada kemauan yang kuat dari cabang olahraga, terutama yang menerima anggaran dari negara, harus ada kesadaran untuk melakukan evaluasi, untuk melakukan introspeksi, apa yang sudah diberikan untuk negara dengan kontribusi negara yang begitu besar terhadap anggaran yang didapatkan pada cabor tersebut. Apakah kontribusi yang diberikan anggaran dari Negara sudah dibalas dengan prestasi yang sepadan? Kalau belum sepadan harus ada kemauan untuk memperbaiki diri, memperbaiki kesalahan-kesalahan yang sudah terjadi supaya anggaran-anggaran yang didapat, anggaran pasti dapat setiap tahun dukungan anggaran, bisa lebih dipertanggungjawabkan di masa depan,” kata Bung Kus, sapaan akrab Kusnaeni, kepada detikSport.
“Khusus untuk sepakbola, sepakbola seharusnya sudah belajar banyak lah dari apa yang kita alami sepanjang tahun yang penuh gejolak, tahun yang turbulens, dari kegagalan ke Piala Dunia, kegagalan SEA Games, itu semua menggambarkan sepakbola itu tidak boleh bergantung pada individu-individu tertentu. Keputusan-keputusan individual itu sedapat mungkin harus dihindari, sedapat mungkin harus dikurangi dan lebih mengedepankan pada sistem.”
“Saya sering mengatakan bahwa keputusan pemberhentian pelatih lama mengganti dengan pelatih baru itu keputusan individual pemimpin, yang khawatir target tidak tercapai, tapi akhirnya tidak tercapai meski sudah ganti pelatih. Coba kalau berdasarkan sistem, orang diberhentikan kalau sudah terbukti gagal, kan enak kita mengukurnya. Jadi, kita kurangi keputusan-keputusan individual yang bergantung pada figur-figur tertentu, katakanlah tokoh-tokoh puncaknya di dunia olahraga masing-masing organisasi, tapi bangunlah sistem yang kuat sehingga olahraga ini mempertanggungjawabkan setiap hasil, setiap keputusan kepada publik.”
“Dan terutama dalam hal ini, terhadap dukungan anggaran dari negara. Kan tidak bisa dipungkiri dukungan anggaran negara juga ada di dalam instrumen pembiayaan yang dikeluarkan PSSI untuk berbagai tim itu, kan ada di situ anggaran negara yang terlibat. Itu harus dipertanggungjawabkan dengan proper. Tidak sekadar kita gagal, ya gagalnya karena apa. Karena kesalahan manajerial, kesalahan decision making, atau kesalahan apa harus jelas. Ini yang saya pikir harus kita bangun sistemnya. Jangan lagi bergantung pada keputusan-keputusan individual,” kata dia menambahkan.
Saksikan Live DetikSore :





